Dewasa ini gosip tentang perceraian artis sudah seperti kacang goreng
di televisi. Pemicunya pun dipaparkan begitu rupa oleh infotainment
dengan jelasnya. Kehadiran orang ketiga kerap menjadi pemicu terbanyak
sebuah perceraian. Kali ini, kita tidak sedang bergosip tentang retaknya
pernikahan seorang yang biasa.
Sekali lagi, kita tidak sedang bergosip. Kita hanya sedang mengambil
ibrah dari perceraian pasangan mulia ‘Asma binti Abu Bakar dan Az Zubair
Bin Awwan. Mereka adalah dua sosok generasi pertama yang menikah dan
memperlihatkan bahwa perceraian pun dapat terjadi pada pernikahan para
sahabat. Dalam buku
Pengikat Surga, disebutkan bahwa kehadiran
Atikah binti Zaid adalah penyebab utama perceraian mereka. Para muslimah
tentu dapat membayangkan betapa terlukanya hati ‘Asma binti Abu Bakar,
seorang istri yang diceraikan karena kehadiran istri lain.
Mengapa ‘Asma binti Abu Bakar diceraikan oleh seorang suami yang
kiprahnya dalam medan jihad membuatnya mendapat kabar dijamin masuk
surga, Az Zubair bin Awwan? Siapakah sosok Atikah binti Zaid? Mengapa Az
Zubair menikahinya? Benarkah ia yang menyebabkan Az Zubair menceraikan
‘Asma? Mengapa seorang yang dijamin masuk surga berani menceraikan putri
khalifah pertama, sahabat kepercayaan Rasulullah SAW? Artikel ini
mencoba ngengurai kekusutan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
‘Asma binti Abu Bakar adalah shahabiyah yang diberi gelar dzaatun
nithaaqain (perempuan pemilik dua selendang) oleh Rasulullah SAW. ‘Asma
bertutur “
Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika
mereka hendak bertolak ke Madinah untuk berhijrah. Aku berkata kepada
ayah, ‘aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali
selendang pinggangku ini.’ Ayahku berkata, ‘Belahlah selendangmu menjadi
dua,’ Aku mengikuti perkataannya, maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain” (HR Bukhari).
‘Asma binti Abu bakar memang perempuan pemberani. Tidak salah jika ia
ditugasi mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW dalam suasana penuh
ancaman kafir Quraisy. Saat ia kecil, ketika ia dan keluarganya masuk
Islam, saat keislaman menghadirkan konsekuensi lepasnya nyawa, Asma
ditugasi oleh Abu Bakar ra. untuk mengawasi kelangsungan ibadah
sahabat-sahabat yang baru masuk Islam. Keceriaannya dan keakrabannya
dengan siapapun membuat ayahnya memintanya tetap bermain dan melihat
perlakuan kaum kafir terhadap sahabat yang baru masuk Islam. Jika ada
sahabat yang terkena diskriminasi, ia harus melaporkannya kepada Abu
Bakar.
Az Zubair Bin Awwan adalah sosok sepermainan ‘Asma. Az Zubair dan
Thalhah bin Ubaidillah kerap menjadi pengganggu saat ‘Asma bermain
bersama Ruqayah binti Muhammad SAW. Walaupun sering mengganggu ternyata
dua pemuda tersebut juga menjadi generasi pertama yang memeluk Islam.
‘Asma mengenal Az Zubair dengan segala keberaniannya di medan perang.
Tidak ada seorang perempuan pun yang tidak tertarik kepada pendamping
setia Rasulullah SAW.
Az Zubair meminang ‘Asma setelah ia melaksanakan hijrah ke Habasiyah.
Berberapa hari sebelum Az Zubair berangkat hijrah, ‘Asma memperlihatkan
ketertarikannya. Lelaki yang dijuluki Hawari ini pun menyambut
ketertarikan ‘Asma dengan jawaban pasti. Beberapa hari setelah pulang
dari Habasiyah Abu Bakar bertemu Az Zubair di rumah Rasulullah SAW. Di
sana ia menawarkan pernikahan dengan putrinya. Az Zubair menjawab
pertanyaan Abu Bakar pada hari yang sama dengan mengunjungi rumahnya.
Betapa senangnya hati ‘Asma seketika itu. Az Zubair menerima tawaran
ayah ‘Asma. Alasan terbesar Az Zubair menikahi ‘Asma adalah karena
ketertarikan ‘Asma kepadanya. Saat peristiwa hijrah ke Madinah, ‘Asma
sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Abdullah bin Zubair
pun lahir dan menjadi bayi pertama yang lahir di Madinah. Kelahirannya
menempas kedustaan kaum Yahudi akan kutukan bahwa tidak akan ada bayi
yang lahir di Madinah setelah peristiwa hijrah.
‘Asma mendampingi Az Zubair selama 28 tahun. Ia memiliki putra dan
putri Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra,
Ummul Hasan, dan Aisyah dalam pernikahannya bersama
Lelaki Surga itu.
Dalam pernikahannya, ‘Asma selalu menjaga perasaan suaminya. Ketia ia
pulang menempuh jarak 3,4km dari kebun kurma milik suaminya dengan
membawa berkilo-kilo kurma, Rasulullah SAW berpapasan dengannya. Ia
menawari agar ‘Asma ikut menaiki unta rombongan Rasulullah SAW. Namun,
‘Asma menolak karena ia tahu bahwa suaminya sangat pencemburu. Saat tiba
di rumah ia berkata kepada suaminya, “
Tadi aku bertemu Rasulullah
SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa
orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya.
Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.” Az Zubair menanggapinya, “
Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku daripada kau naik unta bersama beliau.”
* * *
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “
Wanita itu
dinikahi karena empat hal : karena hartanya,karena keturunannya, karena
kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang bergama,
(jika tidak) maka celakalah kamu.” (HR. Jamaah kecuali Tirmidzi).
Ia adalah wanita yang sangat cantik. Abdullah bin Abu Bakar, kakak ‘Asma berkata, “
Ia adalah wanita yang gerak-geriknya menggerlorakan cinta.” Atikah binti Zaid pertama kali menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Dengan demikian, Atikah pernah menjadi kakak ipar ‘Asma.
Pada saat menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar, Atikah pernah
membuat suaminya melupakan perniagaan karena terlalu mencintainya. Oleh
sebab itu, Abu Bakar meminta Abdullah menceraikan Atikah. Setelah
beberapa saat Abdullah dapat melobi ayahnya dan diizinkan untuk rujuk.
Pada sebuah perang, Abdullah bin Abu Bakar syahid di medan jihad. Karena
kecintaannya yang besar, ia mewariskan sejumlah harta dan meminta
Atikah untuk tidak menikah lagi. Namun, pada saat itu Zaid bin Khatab
(salah satu saudara Umar bin Khatab) tertarik kepadanya. Ia teringat
dengan ucapan Umar bin Khatab, “
Wahai Atikah, janganlah kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kepadamu.” Karena perkataan tersebut, setelah masa iddal, Atikah menikah dengan Zaid bin Khatab.
Pada perang Uhud, Zaid bin Khatab syahid. Ia menitipkan istrinya
kepada Umar bin Khatab. Oleh sebab itu, Atikah menikah dengan Umar bin
Khatab setelah kematian Zaid. Pada saat Umar meminangnya, Atikah
meberikan syarat Umar tidak boleh melarangnya shalat ke masjid Nabawi.
Umar menyanggupinya walaupun ia kurang setuju karena kecantikan Atikah
dapat menimbulkan fitnah yang membahayakan. Suatu hari Abu Musa Al
Asy’ari pernah memberi sebuah karpet kepada Atikah. Saat karpet tersebut
dibawa ke rumah, Umar marah melihat pemberian tersebut. Ia langsung
mendatangi Abu Musa dan bertanya, “Apa alasanmu memberikan barang ini
kepada istriku?” Umar mengembalikan karpet tersebut sembari berkata,
“kami tidak membutuhkannya.” Kecantikan Atikah membuat suami-suaminya
amat menjaganya dan menjadi pencemburu.
Pada 23 Hijriyah Umar bin Khatab syahid karena ditusuk dengan belati
oleh Abu Lu’luah, seorang penganut Majusi. Ia melipat kesedihannya dalam
sebuah syair:
Hai mata, berikanlah ratapan dan tangisan
Kepada imam yang mulia jangan bosan
Kabar duka, penunggang kuda menyampaikan
Di saat bertugas dan peperangan
Katakan kepada orang-orang susah, matilah!
Karena kematian telah menjemput
Aku tidak bisa tidur, mataku terjaga
oleh isi hati penuh ketakjubab
Hari ini mataku benar-benar terjaga
Aku tangisi Amirul Mukminin dan semuanya
Kepada para pelayan kemanfaatnan dan kelapangan
Keindahan syair itu membuat Az Zubair kagum kepadanya. Kecintaannya
terhadap Atikah sangat terlihat dari kekagumannya. Setelah Umar bin
Khatab wafat, Atikah dipinang oleh Az Zubair bin Awwam, suami ‘Asma. Az
Zubair tetap mengizinkannya untuk shalat ke masjid Nabawi. Namun, ia
tetap membuntuti Atikah dari belakang. Tapi tak lama setelah itu, Az
Zubair resmi melarang Atikah pergi ke masjid Nabawi dan ia tidak pernah
melakukannya lagi. Az Zubair memang pencemburu.
Perhatiannya kepada Atikah seolah menyiratkan pertanyaan di hati ‘Asma, “
Az
Zubair, kau memberikan padaku segalanya. Menanamkan benih-benih hebat
pejuang tauhid. Kau mengokohkanku dengan kisah-kisah pengorbanan tulus
dalam setiap desahmu. Kau memberikan segalanya, kecuali cinta yang
bergelora. Az Zubair, suamiku, jenis cinta apakah yang kemu miliki
untukku?” Kecantikan Atikah membuat Az Zubair harus menjaga
istrinya yang satu ini dengan ekstra ketat. Sedangkan ‘Asma yang sejak
kecil merupakan perempuan pemberani tentu tidak melahirkan kekhawatiran
di hati Az Zubair. Oleh sebab itu, perhatian Az Zubair terhadap ‘Asma
tidak sebesar perhatiannya terhadap Atikah. Ketidakseimbangan inilah
yang menjadi badai dalam pernikahan ‘Asma dan Az Zubair. Pada suatu
siang, sekitar tahun ke 29 Hijriyah, setelah selama 28 tahun Asma
mendampinginya, Az Zubair menceraikan ‘Asma. Entah karena alasan
spesifik apa. Kecenderungan Az Zubair kepada Atikah yang menjadi alasan
terbesar perceraian tersebut.
Pada tahun ke 36 Hijriyah Az Zubair syahid saat Atikah berusia lebih
dari 50 tahun. Ia adalah wanita yang diketahui seantero dunia telah
meratapi kematian suaminya dengan syair. Pada saat itu tidak pernah
disebut-sebut tentang ‘Asma binti Abu Bakar. Yang terkenal pada
peristiwa kematian Az Zubair adalah syair yang dibuat oleh Atikah:
Anak Jarmuz mengkhianati pemimpin pasukan
Suatu hari tanpa perlawanan
Hai ‘Amr, jika kau beritahu, dia akan siaga
Tidak akan gemetar jiwa dan tangannya
Berapa banyak kesulitan dilewatinya
Dia tidak akan tercela, wahai orang yang akan disiksa
Demi Allah, kau telah membunuh seorang muslim
Layak engkau dihukum, pembunuh dengan sengaja
* * *
Walaupun pernah bersama adalah ‘Asma, ternyata yang menjadi
pendampingnya dikala syahid adalah Atikah. Bahkan pada kematian Az
Zubair membuat Atikah terkenal sebagai istri para syuhada. Ia sempat
dipinang oleh Ali bin Abi Thalib. Namun, pada saat itu, Atikah
mengajukan syarat agar Ali tidak berperang karena takut Ali syahid
seperti suami-suaminya yang lain. Karena persyaratan itu, Ali tidak jadi
menikahinya. Atikah lalu menikah dengan Hasan bin Ali. Inilah
pernikahan terakhirnya. Atikah wafat pada tahun 41 Hijriyah.
Setelah perceraian dengan Az Zubair, sejarah ‘Asma binti Abu Bakar
adalah sejarah perjuangannya bersama putra-putranya. Ia tidak pernah
menikah lagi. Keputusan ini karena perkataan ayahnya, “
Putriku,
Sabarlah. jika seorang wanita mempunyai suami yang shaleh dan dia
meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan
dipersatukan kembali di surga.” Asma meninggal tujuh belas hari
setelah Abdullah bin Az Zubair meninggal dunia. Ia wafat pada tahun ke
73 Hijriyah. Adz Dzahabi berkata, “
Asma adalah orang terakhir yang meninggal di antara golongan kaum Muhajjirin.”
Allah menakdirkannya berusia 100 tahun. Ia tidak pikun, giginya tidak
satupun yang tanggal, pikirannya pun tetap kuat dan prima. Begitu pun
keimanannya masih tetap teguh dalam ketakwaan.
KESIMPULAN
Terkadang dinikahi oleh orang yang dicintai selalu menghasilkan
tanya, “Cintakah kau kepadaku?” Seperti pertanyaan ‘Asma ra. kepada Az
Zubair ra. yang jawabannya belum dapat ditemukan dalam literatur
manapun. Kecantikan dapat menjadi salah satu hal yang menjadi alasan
mengapa perempuan dinikahi tapi ketinggian iman merupakan pilihan yang
paling menyelamatkan. Di samping keshalihan dan kecerdasan, ternyata
kecantikan merupakan kriteria penting yang membuat lelaki memilih istri,
termasuk pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Kecemburuan adalah duri
dan belenggu dalam pernikahan terutama pada pernikahan poligami. Hal
terpenting dari kisah ini, mempertahankan pernikahan lebih sulit
daripada meraihnya.
Pustaka
Al Misri, Muhammad. 2006. 35 Shirah Shahabiyah jilid 2. Jakarta: Al Itishom
Bent Soe, Hisani. 2010. Pengikat Surga. Cimahi: Ten-Q
Ridha, Akram. 2006. Cerdas dan Dicintai. Jakarta: Maghfirah
Kameela, Ayyesha.2009.Menjadi Hamba Allah Yang Dirindukan Surga. Jakarta: Jendela Dunia
Hidayatullah, Irfan. 2009. Perempuan Bersayap Surga. Bandung: DAR! Mizan